Tak Mengenal Lelah dalam Berbagi Ilmu dan Pengalaman
Sekedar mengingatkan saja bahwa pada postingan saya sebelumnya di Blogger Indonesia membahas tentang Pilkada, Pemilu, Politik, dan Korupsi. Dan kali ini saya akan membahas tentang Tak Mengenal Lelah dalam Berbagi Ilmu dan Pengalaman. Menurut informasi Rose Gilbert yang berumur sekitar 91 tahun, disebut-sebut sebagai guru tertua di Los Angeles, Amerika Serikat. Dia tetap bersemangat mengajar bahasa dan sastra Inggris meski sebenarnya telah memasuki usia pensiun sejak beberapa puluh tahun lalu.
Setiap mengajar di depan kelas menurut informasi yang diterima Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Gilbert selalu menggunakan helm pemadam kebakaran. Saya siap membakar, ujarnya ketika memulai pelajaran. Pada bulan lalu, Gilbert meraih penghargaan Citizen of the Yeardari harian lokal Palisadian Post. Dia mengajar bahasa dan sastra Inggris di Sekolah Menengah Palisades Charter sejak 1961. Mama G, demikian panggilan akrab Gilbert, dipuji sebagai guru yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada siswanya.
Gilbert sebenarnya telah memasuki usia pensiun sejak beberapa puluh tahun lalu. Namun, dia tidak mau dipensiunkan oleh pihak sekolah dan pemerintah, menurut informasi yang diterima Type Approval Indonesia. Dia memilih mengabdikan waktu dan ilmunya untuk mengajar. Baginya, mengajar bukan untuk mencari uang, melainkan demi berbagi pengalaman kehidupan, khususnya melalui belajar bahasa dan sastra. Gilbert sebenarnya adalah seorang miliarder. Dia mendapatkan warisan jutaan dolar dari mendiang suaminya, Sam.
Sam merupakan pengusaha yang merintis bisnis dari nol dalam bidang kontraktor. Setiap hari, Gilbert tinggal di vila mewah dengan berbagai perlengkapan supermahal. Sebenarnya, saya tidak perlu bekerja karena saya tidak membutuhkan uang. Tapi, saya sangat suka mengajar dan bertemu dengan anak-anak muda, paparnya kepada Palisadian Post. Buktinya, Gilbert mendirikan kolam renang mewah senilai USD4,6 juta di sekolah tempatnya mengajar.
Kolam renang tersebut diberi nama sesuai dengan nama putrinya, Maggie, yang meninggal karena suatu penyakit pada 2004. Maggie merupakan mantan perenang olimpiade. Setiap mengajar, Gilbert selalu menggunakan helm pemadam kebakaran. Lebih seringnya, dia menggunakan helm berwarna merah. Aksesori helm itu dikenakannya sejak dia mengajar novel 1984karya George Orwell.
Novel tersebut berkisah tentang seorang pegawai Pemerintah Inggris yang menulis buku harian untuk menuangkan semua beban pikirannya. Tapi, tindakan itu dianggap kejahatan oleh partai berkuasa. Di depan siswa-siswa SMA, Gilbert tak malu-malu bercerita dari hal serius hingga seks. Dia selalu mengangkat isu-isu kontroversial dan tren yang sedang berkembang. Dia selalu mengungkapkan, sastra adalah kehidupan sehari-hari dan gambaran prediksi masa depan.
Dia selalu menantang dan mengajak mereka untuk mendalami dunia sastra. Itu omong kosong, ujarnya ketika ada siswa yang salah menjawab pertanyaan. Jika saya siap membakar, maka anak-anak siap dibakar, tutur Gilbert. Dalam kelasnya, setiap siswa dianggap sebagai gelembung-gelembung. Dia juga selalu menunjukkan kasih sayang kepada para siswanya dengan mengatakan bubbeleh dan sweetie pie. Saya suka mengajar karena berinteraksi dengan anak-anak, paparnya.
Dia menambahkan, ketika mengajar selalu menemukan hal baru, hal yang menyegarkan, dan itu membuatnya selalu bersemangat dan tersenyum. Gilbert sebenarnya mulai mengajar sejak 1940-an. Kemudian, dia pernah berhenti dan kembali mengajar pada 1956. Kemudian, dia pindah ke sekolah Palisades Charter pada 1961. Hingga saat ini, dia masih mengajar di sana.
Sekolah tersebut sangat inklusif dan memiliki 2.700 siswa dengan pemandangan ke Samudra Pasifik dan Pegunungan Santa Monica. Para siswa dan mantan siswa memandang Gilbert sebagai seorang guru yang memiliki jiwa pemberontak. Dia seorang pemberontak, tetapi kita mencintai caranya, demikian ungkapan siswa dari kelas yang pertama kali dia ajar. Gilbert memang dikenal tidak menyukai birokrasi dan gaya pengajaran tradisional.
Kebebasan gaya pengajaran Gilbert pun didukung penuh oleh pihak sekolah. Jika saya mengikuti sistem kurikulum pendidikan California, saya bisa saja. Tapi saya tak mau, ujar Gilbert. Dia beruntung mengajar pada sekolah yang maju dan mengembangkan kurikulum sendiri. Di usianya yang telah menginjak senja, Gilbert berpenampilan segar dan bugar setiap hari. Setiap pagi, dia selalu olah raga angkat berat dan mempraktikkan yoga.
Setiap akhir pekan menurut pengamatan Mbah Gendeng, dia selalu bermain bola basket dan sepak bola. Dia juga selalu bermain-main dengan para cucunya. Ketika ditanya, kapan akan berhenti mengajar? Gilbert terdiam. Ketika saya lelah, jawabnya. Tapi, saya belum lelah. Saya memiliki energi lebih banyak dibandingkan seorang anak kecil, imbuhnya.
Gilbert sebenarnya telah memasuki usia pensiun sejak beberapa puluh tahun lalu. Namun, dia tidak mau dipensiunkan oleh pihak sekolah dan pemerintah, menurut informasi yang diterima Type Approval Indonesia. Dia memilih mengabdikan waktu dan ilmunya untuk mengajar. Baginya, mengajar bukan untuk mencari uang, melainkan demi berbagi pengalaman kehidupan, khususnya melalui belajar bahasa dan sastra. Gilbert sebenarnya adalah seorang miliarder. Dia mendapatkan warisan jutaan dolar dari mendiang suaminya, Sam.
Sam merupakan pengusaha yang merintis bisnis dari nol dalam bidang kontraktor. Setiap hari, Gilbert tinggal di vila mewah dengan berbagai perlengkapan supermahal. Sebenarnya, saya tidak perlu bekerja karena saya tidak membutuhkan uang. Tapi, saya sangat suka mengajar dan bertemu dengan anak-anak muda, paparnya kepada Palisadian Post. Buktinya, Gilbert mendirikan kolam renang mewah senilai USD4,6 juta di sekolah tempatnya mengajar.
Kolam renang tersebut diberi nama sesuai dengan nama putrinya, Maggie, yang meninggal karena suatu penyakit pada 2004. Maggie merupakan mantan perenang olimpiade. Setiap mengajar, Gilbert selalu menggunakan helm pemadam kebakaran. Lebih seringnya, dia menggunakan helm berwarna merah. Aksesori helm itu dikenakannya sejak dia mengajar novel 1984karya George Orwell.
Novel tersebut berkisah tentang seorang pegawai Pemerintah Inggris yang menulis buku harian untuk menuangkan semua beban pikirannya. Tapi, tindakan itu dianggap kejahatan oleh partai berkuasa. Di depan siswa-siswa SMA, Gilbert tak malu-malu bercerita dari hal serius hingga seks. Dia selalu mengangkat isu-isu kontroversial dan tren yang sedang berkembang. Dia selalu mengungkapkan, sastra adalah kehidupan sehari-hari dan gambaran prediksi masa depan.
Saya hanya ingin meyakinkan para siswa bahwa mereka hidup dalam dunia sastra, menyukai puisi, dan mencintai kehidupan. Saya tidak ingin mereka belajar hanya untuk mendapatkan nilai bagus, tuturnya seperti dikutip dari Seattle Times. Gilbert mengaku kebanyakan anak muda saat ini jarang menyukai puisi. Padahal, menurut dia, puisi itu sangat seksi. Demi siswa-siswinya menyukai sastra, Gilbert pun mengakrabkan diri dengan dunia anak muda.
Dia selalu menantang dan mengajak mereka untuk mendalami dunia sastra. Itu omong kosong, ujarnya ketika ada siswa yang salah menjawab pertanyaan. Jika saya siap membakar, maka anak-anak siap dibakar, tutur Gilbert. Dalam kelasnya, setiap siswa dianggap sebagai gelembung-gelembung. Dia juga selalu menunjukkan kasih sayang kepada para siswanya dengan mengatakan bubbeleh dan sweetie pie. Saya suka mengajar karena berinteraksi dengan anak-anak, paparnya.
Dia menambahkan, ketika mengajar selalu menemukan hal baru, hal yang menyegarkan, dan itu membuatnya selalu bersemangat dan tersenyum. Gilbert sebenarnya mulai mengajar sejak 1940-an. Kemudian, dia pernah berhenti dan kembali mengajar pada 1956. Kemudian, dia pindah ke sekolah Palisades Charter pada 1961. Hingga saat ini, dia masih mengajar di sana.
Sekolah tersebut sangat inklusif dan memiliki 2.700 siswa dengan pemandangan ke Samudra Pasifik dan Pegunungan Santa Monica. Para siswa dan mantan siswa memandang Gilbert sebagai seorang guru yang memiliki jiwa pemberontak. Dia seorang pemberontak, tetapi kita mencintai caranya, demikian ungkapan siswa dari kelas yang pertama kali dia ajar. Gilbert memang dikenal tidak menyukai birokrasi dan gaya pengajaran tradisional.
Kebebasan gaya pengajaran Gilbert pun didukung penuh oleh pihak sekolah. Jika saya mengikuti sistem kurikulum pendidikan California, saya bisa saja. Tapi saya tak mau, ujar Gilbert. Dia beruntung mengajar pada sekolah yang maju dan mengembangkan kurikulum sendiri. Di usianya yang telah menginjak senja, Gilbert berpenampilan segar dan bugar setiap hari. Setiap pagi, dia selalu olah raga angkat berat dan mempraktikkan yoga.
Setiap akhir pekan menurut pengamatan Mbah Gendeng, dia selalu bermain bola basket dan sepak bola. Dia juga selalu bermain-main dengan para cucunya. Ketika ditanya, kapan akan berhenti mengajar? Gilbert terdiam. Ketika saya lelah, jawabnya. Tapi, saya belum lelah. Saya memiliki energi lebih banyak dibandingkan seorang anak kecil, imbuhnya.