Memajukan Pendidikan Perempuan Afghanistan
Tak Mengenal Lelah dalam Berbagi Ilmu dan Pengalaman merupakan postingan sebelumnya di Blogger Indonesia, dan kali ini saya akan membahas tentang Memajukan Pendidikan Perempuan Afghanistan. menurut informasi bahwa Clotilde Dedecker tidak punya darah Afghanistan. Dia bahkan belum pernah ke Afghanistan. Namun, dia membuktikan dedikasinya memperjuangkan kemajuan perempuan negeri yang tak pernah henti dilanda konflik itu.
HARI Natal 1967, Dedecker, yang saat itu masih duduk di kelas tiga sekolah dasar, dan keluarganya meninggalkan Kuba. Dedecker kecil tentu belum bisa memahami mengapa keluarganya pindah. Dia hanya menangis seraya merajuk supaya diizinkan tetap tinggal di Kuba. Tangisan dan rajukan tidak mampu meluruhkan niat keluarganya terbang ke Amerika Serikat (AS), tempat ayahnya melanjutkan pendidikan kedokteran gigi. KeluargaDedecker tinggal di Miami, lantas pindah ke Buffalo, New York.
Lambat laun dia mulai menikmati kota dengan populasi terbesar kedua di negara bagian New York dan dihuni berbagai kelompok masyarakat. Dedecker pun tumbuh menjadi gadis yang berwawasan luas karena banyak mendengarkan cerita teman-teman tentang daerah asal mereka. Dedecker trenyuh saat mendengar konflik berdarah di negara asal teman-temannya. Hidup di tengah kepungan peluru tentu menakutkan, paparnya. Cerita tentang peperangan terus menghantui pikirannya.
Dia membayangkan perempuan-perempuan muda yang rindu bersekolah, tetapi terpaksa tinggal di rumah. Akses pendidikan begitu tipis dan mungil. Perempuan-perempuan ini sulit menerobos pengetahuan yang sepatutnya mereka terima. Dedecker berubah menjadi orang yang sentimental setiap kali melihat wajah teman-teman yang berasal dari kawasan konflik. Mereka (teman- temannya) hanya sebagian kecil masyarakat yang beruntung memperoleh pendidikan tinggi.
Selain mereka, masih ada sejumlah besar perempuan yang terus bermimpi tanpa tahu kapan bakal terwujud. Perempuan-perempuan ini seperti tengah menanti di ujung gang, pikir Dedecker. Menurut Dedecker, perempuan Afghanistan sebenarnya punya keinginan sama dengan perempuan di negeri lain. Mereka ingin belajar serta bersosialisasi dengan teman sebaya dalam lingkungan sekolah, serta bisa maju. Sayang, niat ini lagi-lagi terpaksa dipukul mundur.
Perempuan-perempuan Afghanistan berhadapan dengan beberapa ketentuan dan larangan yang membuyarkan mimpi mereka. Dedecker mendengar semua. Dia mencermati setiap kisah, perkembangan, bahkan situasi yang terdengar statis, dan prihatin dengan situasi yang dialami perempuan muda Afghanistan. Dedecker, seorang yang belum pernah ke Afghanistan ini, ingin mendengar perempuan Afghanistan semakin maju.
Saya ingin mereka bisa bersuara lantang. Saya ingin mereka mengejar pendidikan dalam lingkungan yang paling berbahaya sekali pun, paparnya. Pada 2004, Dedecker mendirikan Circle of Women.Pada awal pembentukan, organisasi nirlaba ini sukses menyediakan dana pendidikan bagi 1.200 anak perempuan di beberapa sekolah dasar di Kandahar dan sekitarnya. Bagaimana caranya? Dedecker dan beberapa rekan mengajukan proposal ke beberapa orang tua murid di beberapa sekolah di Buffalo.
Proposal ini bukan surat pengajuan dana langsung. Dedecker menyebutnya permohonan izin. Kami mengajak anak-anak mereka ikut serta dalam proyek penggalangan dana, tutur Dedecker. Dia lantas meminta murid-murid di Buffalo untuk membuat kerajinan tangan dan menjual beberapa produk makanan. Dedecker bersyukur karena hasil penjualan melebihi target semula, USD21.000 (Rp190 juta).
Menurut informasi yang diterima Type Approval Indonesia bahwa keseluruhan uang langsung didistribusikan ke beberapa sekolah dasar di Kandahar, salah satunya Sekolah Zarghona. Kota Kandahar menjadi fokus utama Dedecker dan kawan-kawan karena merupakan salah satu kawasan tertinggal. Perempuan-perempuan Kandahar ingin maju, tapi kerap terbentur ketentuan dan beberapa kepentingan lain. Dedecker menerima semua laporan tentang perkembangan pendidikan di Kandahar. Dia mengaku bangga terhadap perempuan muda Kandahar.
Saya belajar tentang nilai-nilai pendidikan dari perempuan Kandahar, katanya. Dia ingin perempuan yang tinggal di negara maju turut becermin pada perempuan Kandahar. Bahkan dalam keadaan serbasulit mereka terus berjuang untuk maju, tuturnya. Hingga kini Dedecker masih aktif dalam Circle of Women. Perempuan berwajah lembut ini berusaha tidak mengeluh selama memimpin Circle of Women.
Dia hanya ingin melakukan hal-hal baik untuk generasi muda dunia, menurut hasil penyelidikan Piala Dunia 2010 afrika Selatan. Semua tidak bisa diukur dengan uang, begitu juga pekerjaan saya, tuturnya. Dia mempelajari nilai kemanusiaan yang sederhana dari Ibu Theresa. Kita seperti pensil yang mungil, katanya mengutip kalimat Ibu Theresa. Kendati hanya tampil sebagai sebatang pensil, tapi manusia bisa menulis harapan dan peluang yang baik bagi sesama. Kalimat ini terus menjadi penyemangat Dedecker untuk memajukan pendidikan perempuan Afghanistan.
Lambat laun dia mulai menikmati kota dengan populasi terbesar kedua di negara bagian New York dan dihuni berbagai kelompok masyarakat. Dedecker pun tumbuh menjadi gadis yang berwawasan luas karena banyak mendengarkan cerita teman-teman tentang daerah asal mereka. Dedecker trenyuh saat mendengar konflik berdarah di negara asal teman-temannya. Hidup di tengah kepungan peluru tentu menakutkan, paparnya. Cerita tentang peperangan terus menghantui pikirannya.
Dia membayangkan perempuan-perempuan muda yang rindu bersekolah, tetapi terpaksa tinggal di rumah. Akses pendidikan begitu tipis dan mungil. Perempuan-perempuan ini sulit menerobos pengetahuan yang sepatutnya mereka terima. Dedecker berubah menjadi orang yang sentimental setiap kali melihat wajah teman-teman yang berasal dari kawasan konflik. Mereka (teman- temannya) hanya sebagian kecil masyarakat yang beruntung memperoleh pendidikan tinggi.
Selain mereka, masih ada sejumlah besar perempuan yang terus bermimpi tanpa tahu kapan bakal terwujud. Perempuan-perempuan ini seperti tengah menanti di ujung gang, pikir Dedecker. Menurut Dedecker, perempuan Afghanistan sebenarnya punya keinginan sama dengan perempuan di negeri lain. Mereka ingin belajar serta bersosialisasi dengan teman sebaya dalam lingkungan sekolah, serta bisa maju. Sayang, niat ini lagi-lagi terpaksa dipukul mundur.
Perempuan-perempuan Afghanistan berhadapan dengan beberapa ketentuan dan larangan yang membuyarkan mimpi mereka. Dedecker mendengar semua. Dia mencermati setiap kisah, perkembangan, bahkan situasi yang terdengar statis, dan prihatin dengan situasi yang dialami perempuan muda Afghanistan. Dedecker, seorang yang belum pernah ke Afghanistan ini, ingin mendengar perempuan Afghanistan semakin maju.
Saya ingin mereka bisa bersuara lantang. Saya ingin mereka mengejar pendidikan dalam lingkungan yang paling berbahaya sekali pun, paparnya. Pada 2004, Dedecker mendirikan Circle of Women.Pada awal pembentukan, organisasi nirlaba ini sukses menyediakan dana pendidikan bagi 1.200 anak perempuan di beberapa sekolah dasar di Kandahar dan sekitarnya. Bagaimana caranya? Dedecker dan beberapa rekan mengajukan proposal ke beberapa orang tua murid di beberapa sekolah di Buffalo.
Proposal ini bukan surat pengajuan dana langsung. Dedecker menyebutnya permohonan izin. Kami mengajak anak-anak mereka ikut serta dalam proyek penggalangan dana, tutur Dedecker. Dia lantas meminta murid-murid di Buffalo untuk membuat kerajinan tangan dan menjual beberapa produk makanan. Dedecker bersyukur karena hasil penjualan melebihi target semula, USD21.000 (Rp190 juta).
Menurut informasi yang diterima Type Approval Indonesia bahwa keseluruhan uang langsung didistribusikan ke beberapa sekolah dasar di Kandahar, salah satunya Sekolah Zarghona. Kota Kandahar menjadi fokus utama Dedecker dan kawan-kawan karena merupakan salah satu kawasan tertinggal. Perempuan-perempuan Kandahar ingin maju, tapi kerap terbentur ketentuan dan beberapa kepentingan lain. Dedecker menerima semua laporan tentang perkembangan pendidikan di Kandahar. Dia mengaku bangga terhadap perempuan muda Kandahar.
Saya belajar tentang nilai-nilai pendidikan dari perempuan Kandahar, katanya. Dia ingin perempuan yang tinggal di negara maju turut becermin pada perempuan Kandahar. Bahkan dalam keadaan serbasulit mereka terus berjuang untuk maju, tuturnya. Hingga kini Dedecker masih aktif dalam Circle of Women. Perempuan berwajah lembut ini berusaha tidak mengeluh selama memimpin Circle of Women.
Dia hanya ingin melakukan hal-hal baik untuk generasi muda dunia, menurut hasil penyelidikan Piala Dunia 2010 afrika Selatan. Semua tidak bisa diukur dengan uang, begitu juga pekerjaan saya, tuturnya. Dia mempelajari nilai kemanusiaan yang sederhana dari Ibu Theresa. Kita seperti pensil yang mungil, katanya mengutip kalimat Ibu Theresa. Kendati hanya tampil sebagai sebatang pensil, tapi manusia bisa menulis harapan dan peluang yang baik bagi sesama. Kalimat ini terus menjadi penyemangat Dedecker untuk memajukan pendidikan perempuan Afghanistan.