Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seafood Guide

Menurut data pusat Riset Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010, sebanyak 55 persen sumber daya perikanan Indonesia sudah over-exploited. Hal ini bisa diminimalisasi apabila konsumen ikan mengubah gaya hidupnya, dengan hanya mengonsumsi seafood yang aman dan ketersediaannya terjamin dalam jangka panjang. Untuk memudahkan masyarakat agar bijak memilih seafood, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mengeluarkan Seafood Guide yang bisa di-download dari situs web baik lewat komputer desktop atau melalui handphone.

Seafood GuideSeafood Guide merupakan panduan berisi daftar spesies laut yang populasinya masih aman, semakin terbatas, dan sudah terancam. Klasifikasi tersebut dibedakan menggunakan blok warna hijau, kuning, dan merah yang diharapkan menjadi referensi publik dalam menentukan pola konsumsinya. Seafood Guide akan dicetak oleh WWF dalam jumlah banyak dan disebar ke seluruh Indonesia. Namun, bagi yang kesulitan mendapatkan versi cetaknya, dapat langsung men-download dari alamat www.wwf.or.id/seafoodguide.

Dalam Seafood Guide akan terdapat berbagai jenis makanan laut dengan klasifikasinya masing-masing. Apabila satu jenis seafood diberi simbol ikan berwarna hijau, maka seafood tersebut aman untuk dikonsumsi. Apabila satu jenis seafood diberi simbol ikan berwarna merah, berarti anda tidak boleh mengkonsumsinya, karena jenisnya sudah langka di perairan Indonesia. Jenis seafood langka harus dihentikan penjualannya untuk memberi waktu bagi jenis seafood tersebut berkembang biak dan bisa dikonsumsi kembali.

"Kalau kita terus mengkonsumsi seafood yang jumlahnya terbatas, maka tidak lama lagi populasinya akan habis dan kita tidak akan bisa mengkonsumsi seafood lagi. Kita tidak bisa menyalahkan nelayan atau produsen ikan segar di supermarket yang menyediakan ikan-ikan dengan berbagai jenis karena mereka menjual sesuai permintaan. Maka yang harus berubah adalah gaya hidup masyarakat sebagai konsumen ikan agar mau lebih bijak dalam memilih seafood," ujar Imam Musthofa, ketua program perikanan WWF-Indonesia dalam konferensi pers "Bijak Memilih Seafood" di Ninety-Nine Resto, Ranch Market Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (16/6/2011).

Imam berharap kampanye WWF ini bisa menjadikan Seafood Guide sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat. "Di negara-negara maju, masyarakatnya sudah sangat peduli dengan guide-guide seperti ini. Setiap akan membeli makanan, biasanya mereka cek dulu di handphone-nya apakah makanan yang akan dibelinya aman," tambah Imam.

Riani Djangkaru, yang menjadi moderator dalam acara ini juga menyerukan hal yang sama. "Kalau kita sedikit-sedikit lihat BB atau handphone untuk cek social media, kenapa ga, ditambah dengan mengecek Seafood Guide saat akan mengonsumsi seafood. Repot sedikit, namun berguna tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk lingkungan di sekitar kita, rasanya tidak berat," ujar Riani.

Namun, ada beberapa jenis seafood yang mendapatkan dua bahkan tiga simbol. Misalnya mendapat simbol warna merah, kuning, dan hijau. Jangan bingung dengan tiga simbol tersebut karena mungkin seafood tersebut sebetulnya aman dikonsumsi menurut WWF, namun akan menjadi tidak aman apabila ikan tersebut ternyata ditangkap dengan cara-cara yang melanggar hukum seperti di-bom. Untuk mengetahui cara penangkapannya, WWF menyarankan agar pembeli menjadi lebih kritis.

"Kalau di pasar tradisional atau pusat pelelangan ikan, tanya saja kepada penjual ikannya, ini ikan ditangkap dengan cara apa? Kalau di supermarket, cara mendeteksinya bisa dengan melihat apakah mulut ikannya robek. Kalau robek berarti aman, karena bekas pancingan biasa. Atau raba tubuhnya apakah berlendir, kalau berlendir berarti sudah terkontaminasi potassium. Lalu perhatikan isi perutnya, kalau berantakan berarti terkena bom," jelas Imam.

Selain kampanye "Bijak Memilih Seafood" dengan Seafood Guide, WWF juga mengumpulkan suara agar masyarakat mau mengisi petisi yang disebar WWF di beberapa gerai Ranch Market. Petisi tersebut berisi permintaan yang mendesak terciptanya kebijakan yang mendukung praktik industri perikanan ramah lingkungan serta pengadaan seafood lestari di Indonesia. Petisi dan kampanye akan digelar di tiga kota besar, yakni Jakarta, Manado, dan Makassar selama 6 bulan. Suara yang terkumpul akan diteruskan kepada pemerintah.

"Kami berharap pemerintah melakukan penegakan hokum terhadap pihak-pihak yang mengekploitasi sumber daya laut secara berlebihan. Kami juga berharap pemerintah mau membuat peraturan yang mengatur pengusaha-pengusaha sumber daya laut agar meningkatkan kualitas hasil tangkapan melalui cara tangkap yang ramah lingkungan, pengolahan, distribusi, sampai pengemasan yang lebih efisien," tutup Imam. Demikian catatan online Blogger Indonesia yang berjudul Seafood Guide.