Home » » Kepala Badan Pusat Statistik

Kepala Badan Pusat Statistik

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan, mengungkapkan bahwa penghentian izin visa kerja dari Arab Saudi kepada calon pembantu rumah tangga asal Indonesia tidak berpengaruh besar terhadap jumlah remitansi yang diterima Indonesia. Jumlah remitansi dari Saudi diperkirakan Rp2,85 triliun setiap bulan.

Rusman mengatakan hitungan itu berdasarkan rata-rata gaji di Arab Saudi Rp1,9 juta per bulan. Sementara, berdasarkan data Arab Saudi, jumlah TKI di negara itu sebanyak 1,5 juta jiwa.

Asumsi itu berdasarkan TKI di sana tidak mengeluarkan biaya hidup karena ditanggung pemilik rumah "Kami (BPS) tidak memiliki datanya, tapi kita harus percaya dengan data yang dimiliki Arab Saudi yang menyatakan ada 1,5 juta TKI," ujar Rusman kepada media.

Namun penghentian ijin TKI itu sebenarnya tidak berpengaruh terhadap jumlah kiriman uang ke Indonesia. Pasalnya, penghitungan remitansi dilihat dari tenaga kerja yang masih aktif bekerja di Arab Saudi.

"Kalau remitansi kan sederhana, kiriman dari tenaga kerja kita di sana. Jadi yang aktif di sana. Jangan melihat dari penyetopan itu" ujar Rusman.

Jika dihitung, rata-rata gaji di Arab Saudi Rp1,9 juta per bulan, maka pengiriman uang TKI ke Indonesia mencapai Rp2,85 triliun per bulan. Asumsinya, TKI di sana tidak mengeluarkan biaya hidup lagi karena ditanggung pemilik rumah.

"Itu angka remitansi setiap bulannya, dari TKI yang masih aktif. Tapi detilnya mungkin ada di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi" lanjut dia.

Sebelumnya, Plt Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Reyna Usman mengatakan penghentian TKI ke Arab Saudi akan mengurangi remitansi TKI sebesar Rp2 triliun. Tahun ini kiriman uang TKI ke Indonesia dari Arab Saudi tidak melebihi angka Rp6 triliun, dari target 2011 sebesar Rp8 triliun.

Sementara data Bank Indonesia per April 2011, remitansi TKI paling banyak berasal dari Malaysia sebesar US$767,96 juta, disusul Arab Saudi sebesar US$759,03 juta atau sekitar Rp6,54 triliun. Selanjutnya, Taiwan sebesar US$158,95 juta dan Hongkong US$151,87 juta.

Jumlah total remitansi per April 2011 sebesar US$2,225 miliar meningkat tipis dibanding April 2010 sebesar US$2,222 miliar. Sebagai bahan perbandingan jumlah total remitansi sepanjang 2010 yaitu US$6,73 miliar. Demikian catatan online Blogger Indonesia yang berjudul Kepala Badan Pusat Statistik.

0 komentar:

Posting Komentar