Home » » Pengontrol biologis penyebaran penyakit

Pengontrol biologis penyebaran penyakit

Hewan yang menjadi simbol film Batman ini sangat bermanfaat bagi manusia dan juga hewan ternak. Ya, Kelelawar yang bisa menjadi alat pengontrol biologis penyebaran penyakit malaria dan arthropods penyebar penyakit ternak. Kok bisa, bagaimana caranya?

Kelelawar Pengontrol biologis penyebaran penyakitMenurut pakar kelelawar Prof Ris Dr Ibnu Maryanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, di Bogor, Jawa Barat menjelaskan bahwa Satu ekor kelelawar dapat memangsa lebih dari 500 ekor serangga pada satu malam, jadi dapat dibayangkan suatu koloni kelelawar yang terdiri dari 10.000 ekor bisa memakan lima juta ekor serangga setiap malam, wauw menakjubkan bukan?

Menurut logika Blogger Indonesia bahwa hilangnya populasi kekelawar dapat mengancam timbulnya wabah malaria. Mengingat keberadaan kelelawar sangat penting bagi keseimbangan ekosistem dan bermanfaat banyak bagi kehidupan manusia.

Kondisi saat ini jumlah populasi kelelawar Indonesia semakin berkurang akibat rusaknya habitat kelelawar yang kebanyakan disebabkan oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Tentu saja ancaman dari wabah penyakit malaria semakin meningkat dan hal ini merugikan kita semua.

Di Indonesia terdapat 225 jenis kelelawar yang terdiri dari 77 jenis pemakan buah dan berperan dalam penyerbukan, sisanya 148 jenis pemakan serangga yang secara tidak langsung membantu manusia dalam memberantas hama dan penyakit.

Kelelawar dengan pakan utama serangga mayoritas tinggal di dalam goa, mencari makan pada malam hari dengan menggunakan ekolokasinya, sehingga mampu menangkap mangsa berupa serangga sekecil apa pun dengan sangat mudah. Terus bertambanya jumlah penduduk Indonesia mengakibatkan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam.

Luas hutan yang terus berkurang menyebabkan populasi kelelawar dari kelompok Megachiroptera juga ikut menurun tentunya. Penembakan secara liar terhadap kelelawar juga menjadi salah satu faktor menurunnya jumlah kelelawar. Kehancuran habitat kawasan karst dan batu gamping yang merupakan habitat kelelawar telah mengancam kepunahan makhluk malam tersebut.

Kawasan Karst menjadi habitat utama kelelawar. Eksploitasi batu kapur guna keperluan industri yang menghancurkan goa-goa hampir di semua kars di Indonesia menyebabkan punahnya jenis-jenis kelelawar. Selain itu, konversi hutan menjadi daerah perkebunan maupun pertanian juga menjadi penyebab menurunnya populasi kelelawar di alam, karena hilangnya sumber pakan dan tempat bertengger.

Penggunaan insektisida dalam skala besar dalam bidang pertanian mengancam keberadaan sumber makanan kelelawar pemakan serangga dan secara tidak langsung juga dapat menyebabkan penurunan populasinya.

Mempertahankan habitat sangat penting bagi terjaganya populasi binatang. Gangguan terhadap ekosistem goa akan menyebabkan keseimbangan proses ekologis terganggu sehingga berdampak pada manusia.

Menurut pakar kelelawar yaitu Ibnu, pemerintah harus mencegah perusakan biota goa akibat penambangan batu kapur untuk keperluan industri. Karena dampak punahnya fauna goa dapat mempengaruhi daerah yang lebih luas di luar goa. Seperti naiknya populasi serangga hama, menurunnya produksi buah-buahan komersial yang merupakan jasa kelelawar dan secara tidak langsung juga ditunjang goa batu kapur yang menjadi habitat kelelawar.

Usaha melakukan konservasi terhadap jenis-jenis kelelawar sangat penting, dan harus dilakukan secara bersungguh-sungguh, mengingat peran kelelawar sangat bernilai bagi proses-proses ekologis yang bermanfaat bagi manusia tentunya.

0 komentar:

Posting Komentar