Home » » Kisah Nabi Ibrahim AS

Kisah Nabi Ibrahim AS

Masih ingat kan Kisah Nabi sebelumnya di Blogger Indonesia? Ya, Kisah Nabi Shalih AS merupakan postingan sebelumnya di Blogger Indonesia dan kali ini saya akan membahas tentang Kisah Nabi Ibrahim AS. Bagi mana asal-usul Nabi Ibrahim AS itu? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan pertama kalinya bagi pambaca. Baik, saya akan sedikit menjelaskan tentang asal-usul Nabi Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim AS itu adalah putra Aazar (Tarih) bin Tahur, bin Saruj bin Rau, bin Falij bin Aabir bin Shalih bin Afrakhsyad bin Saam bin Nuh. Nabi Ibrahim dilahirkan disebuah tempat bernama Faddam A'ram yang termasuk wilayah kerajaan Babilon. Kerajaan Babilon pada waktu itu diperintahkan oleh seorang raja yang bengis dan mempunyai kekuasaan absolut yaitu Namrud.

Ia Seorang raja yang tidak mau lengser dan ingin berkuasa terus menerus, bahkan ingin hidup terus menerus. Karena itu ia tak segan-segan untuk membodohi rakyatnya agar menyembah berhala. Bahkan ia juga memproklamirkan diri sebagai salah satu tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya. Sehingga segala perintahnya tak ada yang berani membangkang.

Sebelum Nabi Ibrahim lahir, raja Namrud pernah bermimpi melihat seorang anak laki-laki melompat masuk kedalam kamarnya lalu merampas mahkotanya dan menghancurkannya. Esok harinya ia memanggil tukang ramal dan tukang tenung untuk menafsirkan arti mimpinya itu.

Menurut tukang ramal, anak laki-laki dalam mimpi sang raja itu kelak akan meruntuhkan kekuasaan sang raja. Tentu saja raja Namrud murka. Ia memerintahkan kepada para prajuritnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir. Ketika Ibrahim lahir, kedua orang tuanya bersembunyi di dalam goa. Sejak bayi hingga menginjak remaja ia dibesarkan didalam goa. Ia tidak pernah melihat dunia luar.

Ibrahim Mempergunakan Akalnya Untuk Berpikir


Rasa ingin tahu merasuki jiwa Ibrahim. Selama ini ia hanya melihat bongkahan batu dan tanah di dalam goa. Ketika ibunya sedang pergi ke kota mencari makanan, ia pun mencoba keluar goa. Begitu menapakkan kakinya di luar goa, Ibrahim tercengang. Ia benar-benar takjub melihat alam yang sangat luas. Gunung-gunung yang menjulang tinggi. Langit biru terbentang luas. Ombak laut berkejar-kejara. Di siang hari ia melihat cahayanya mentari. Di waktu malam ia melihat sinar bulan yang menerangi malam.


Sejak kecil Nabi Ibrahim sudah mendapat petunjuk dari Tuhan. Ia merasa heran melihat orang-orang yang menyembah patung, padahal patung-patung itu tak bisa bicara, tak bisa melihat, tak bisa mendengar dan tak bisa memberikan pertolongan.


"Mengapa mereka menyembah benda mati ?" demikian pertanyaan yang timbul dari benak Ibrahim.


Jika ia bertemu dengan onta, kambing dan domba-domba, selalu bergolak pertanyaan dalam hatinya. Siapakah yang menciptakan itu semua?


Ibrahim ingin mencari siapakah yang berkuasa atas semua ini. Siapakah seharusnya yang pantas dijadikan Tuhan dan wjib disembahnya?


Ketika malam tiba, ia melihat bulan dan bintang. Namun bulan itu akhirnya tenggelam tak nampak lagi. Pada siang hari ia melihat matahari, namun disenja hari matahari itu juga tenggelam tak nampak lagi.


Ibrahim berkata dalam hatinya: "Aku tidak suka bertuhan yang tenggelam itu."


Akhirnya Ibrahim dapat menemukan kesimpulan. Akal pikirannya yang masih suci bersih itu memutuskan bahwa Tuhan adalah Yang Menciptakan semua alam ini. Berkata dalam hatinya :"Tuhanku adalah yang menciptakan langit dan bumi. Tuhanku yang menciptakan manusia, tetumbuhan, hewan dan apa saja yang terdapat di muka bumi ini."


Ibrahim Bergaul dengan Kaumnya


Sesudah dewasa dan berita tentang pembunuhan bayi-bayi sudah sirna. Ibrahim diijinkan kedua orang tuanya keluar dari goa. Hidup di tengah-tengah masyarakat. Kesediahan menggerogoti hatinya, ternyata masyarakat disekitarnya sudah bobrok mental dan akhlaknya. Akal pikiran mereka benar-benar sudah tumpul, sehingga patung dan batu-batu bergambar mereka jadikan Tuhan yang disembah-sembah.


Ayah Ibrahim sendiri adalah tukang pembuat patung yang dijual ke masyarakat banyak. Dan ayahnya juga menyembah patung yang dibuatnya sendiri. Ibrahim kemudian mengadu kepada Tuhan : "Ya Tuhan, aku sedang menderita, derita batin. Aku melihat kemungkaran dan kesesatan. Untuk apakah gerangan akal dan pikiran yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka ? Apakah akal pikiarn itu hanya digunakan untuk mencari kekayaan dan berbuat kerusakan belaka. Oh Tuhanku, tunjukilah aku, kalau Tuhan tidak menunjuki aku, sungguh aku akan menjadi orang yang tersesat dan berbuat aniaya."


Lalu Allah memberikan petunjuk kepadanya. Ia diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Ia diberi wahyu sehingga keyakinan tentang adanya Tuhan bukan sekedar kesimpulan akal pikirannya belaka, melainkan berasal dari ketetapan Tuhan. Allah mengajarkan segala rahasia yang ada di balik alam nyata ini. Bahwa di balik alam nyata ini ada juga alam ghaib. Setiap manusia yang mati kelak akan dibangkitkan lagi di dalam akhirat.


Ibrahim Meyakinkan Dirinya


Nabi Ibrahim sebenarnya sudah percaya akan adanya hari pembalasan di akhirat. Pada suatu hari ia ingin memperoleh petunjuk yang lebih nyata dan meyakinkan hatinya. Maka berdo'alah ia kepada Tuhan :"Ya, Tuhanku perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati."


Allah menjawab permintaan Ibrahim itu dengan sebuah pertanyaan : "Apakah kamu belum percaya Ibrahim?"


Nabi Ibrahim menjawab : "Saya telah percaya tetapi supaya bertambah yakin hati saya."


Tuhan kemudian memerintahkan Ibrahim mengambil empat ekor burung. Keempatnya dipotong-potong dan tubuhnya dicerai beraikan atau dipisah-pisahkan. Potongan-potongan kecil dari keempat burung itu dilumatkan kemudian dijadikan empat onggok. Masing-masing onggokan diletakkan di empat bukit yang letaknya berjauhan.


Ibrahim kemudian diperintahkan mengambil burung-burung yang sudah hancur tadi. Tiba-tiba saja burung itu hidup lagi seperti sedia kala dan menghampiri Nabi Ibrahim. Kini bertambah yakinlah Ibrahim akan kekuasaan Allah yang menghidupkan sesuatu yang sudah mati.


Allah kemudian berfirman kepada Ibrahim :"Demikian pula aku akan membangkitkan manusia yang sudah mati untuk dihidupkan di alam akhirat, dan akan dihisap amal perbuatannya sewaktu di dunia. Dan semua manusia akan menerima balasannya sendiri-sendiri".


Ajakan Kepada Ayahnya Meninggalkan Berhala


Sebelum Nabi Ibrahim mengajak kaumnya untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala, pertama kali yang diajaknya menyembah Allah adalah ayahnya sendiri. Ayah Ibrahim bernama Azar, beliau adalah pembuat patung berhala. Ia memperingatkan ayahnya dengan bahasa yang lemah lembut penuh kesopanan : "Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun ? Wahai ayahku, sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang diberikan Allah dan tidak mungkin diberikan kepadamu. Maka ikutlah nasihat-nasihatku, niscaya akan menunjukan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir engkau akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan dari setan."


Tapi ayahnya tidak mau mengikuti ajakan Ibrahim.


Berkata ayahnya, " Bencikah kamu terhadap Tuhanku, Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti mengajakku, niscaya aku akan merajammu. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama."


Karena ayahnya tidak mau mengikuti ajakannya, ia hanya berkata : "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu pada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik padaku. Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Dan aku akan berdo'a kepada Tuhanku. Mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo'a kepada Tuhanku."


Do'a atau permohonan Nabi Ibrahim untuk ayahnya tak lain adalah karena kasih sayangnya selaku anak kepada ayahnya. Namun setelah Allah menerangkan bahwa ayah Ibrahim adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri padanya. Tak ada beban moral lagi selaku anak kepada ayahnya seperti tersebut dalam Al-Qur'an :


"Dan permintaan ampun dari Ibrahim untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkan kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah, maka Ibrahim terlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang lembut hatinya lagi penyantun."


Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala


Nabi Ibrahim adalah seoarang yang cerdas dan ahli logika serta strategi yang ulung. Ia ingin berdialog dengan Raja Namurud di hadapan orang banyak. Caranya ? Ia hancurkan lebih dahulu berhala-berhala yang menjadi sesembahan Raja Namrud dan Rakyatnya. Hal itu ia lakukan ketika sang Raja dan semua rakyat sedang berpesta hari raya dengan berburu di tengah hutan. Di saat rumah penyembahan berhala kosong meka Ibrahim masuk membawa kapak. Berhala-berhala kecil dan sedang dihancurkannya, lalu kapak yang dibawanya itu diletakkan di leher berhala yang paling besar.


Raja Namrud dan pengikutnya kembali dari perburuan dengan wajah gembira. Mereka akan mengadakan pesta pora sambil menyembah berhala di ruang pemujaan. Namun betapa terkejutnya mereka saat melihat berhala-berhala itu telah tercerai berai.


"Kurang ajar, siapa yang berani menghancurkan berhala kita?"


Raja Namrud meluapkan amarahnya.


Tidak seoarang pun menjawab. Namun ada seorang saksi yang melihat bahwa hanya Ibrahim saja yang tidak Ikut berburu ke hutan dengan alasan perutnya sakit.


"Tangkap dia dan bawa kehadapanku!" perintah Raja Namrud.


Ibrahim kemudian ditangkap, dalihnya karena hanya ia seorang yang tidak ikut keluar kota untuk berburu hewan. Pastilah ia yang melakukan penghancuran ini.


Ia dibawa ke hadapan Raja Namrud, disaksikan rakyat banyak ia diinterogasi. Ibrahim tersenym, memang inilah yang diharapkannya.


Bertanya Raja Namrud :"Apakah kamu yang menghancurkan berhala-berhala itu ?"


"Bukan !"jawab Ibrahim.


"Ibrahim ! " sergah Raja Namrud. "Cukup banyak bukti yang menunjukan kaulah pelakunya. Tak usah mungkir !"


"Bukan aku pelakunya !" jawab Ibrahim untuk memancing emosi raja Namrud. Ia mengajak dialog raja itu.


"Baiklah Raja Namrud," kata Ibrahim. "Saya punya pikiran, kamu juga punya pikiran. Kalau kamu mencari siapa pelaku penghancuran berhala-berhala itu, maka tanyakanlah kepada berhala yang paling besar itu. Bukankah kapak itu menggantung dilehernya. Berarti berhala paling besar itu pelakunya."


Raja Namrud berang mendengar ucapan itu :"Hai Ibrahim, kau sungguh bodoh? Dimana otakmu? Masak patung seperti itu akan saya ajak bicara, mana mungkin dia bisa bicara? kau jangan mengada ada !"


"Hai Raja Namrud !" Kata Ibrahim dengan lantangnya. "Siapa sebenarnya yang bodoh. Mengapa patung yang tak dapat bicara dan bergerak kau jadikan Tuhan yang harus disembah. Mengapa patung dan berhala yang tak dapat melindungi dirinya itu kalian puja-puja, bukan ini kebodohan yang teramat sangat ?"


Raja Namrud dan pengikutnya terdiam mendengar jawaban Ibrahim itu. Sebagian masyarakat yang akalnya sehat membenarkan ucapan Nabi Ibrahim itu, namun mana berani mereka angkat bicara. Sementara Raja Namrud dan pengikutnya tak dapat membantah. Hanya amarah yang timbul dihatinya. Dan langsung Raja Namrud memerintahkan Ibrahim untuk ditangkap dan diikat.


"Apa hukuman yang pantas dijatuhkan untuknya ?" tanya Raja Namrud kepada para penasihatnya.


"Bakar ! Bakar saja dia sampai mati !" jawab para penasihat kerajaan.


Kayu-kayu segera dikumpulkan. Ibrahim diletakkan diatasnya dalam keadaan terikat, kemudian dibakarlah ia hingga kayu yang bertumpuk-tumpuk itu habis. Raja Namrud dan rakyatnya mengira Ibrahim akan hangus menjadi abu. Namun setelah api itu padam, Ibrahim masih segar bugar. Itulah Mu'jizat Nabi Ibrahim. Tak mempan dibakar.


Dialog Ibrahim Dengan Raja Namrud


Sesudah Nabi Ibrahim dibakar tidak mati, sebenarnya banyak rakyat yang mau mengikuti ajarannya. Tapi karena takut pada ancaman Raja namrud, maka mereka masih banyak yang kafir. Nabi Ibrahim pun meneruskan dakwahnya untuk mengajak manusia hanya menyembah Allah. Hal ini membuat murka Raja Namrud. Suatu hari Nabi Ibrahim dipanggil menghadap ke istana Raja Namrud.


"Engkau telah menyebarkan fitnah yang jahat sekali, "kata Raja Namrud." Adakah Tuhan selain aku? Akulah Tuhan yang harus kau sembah. Aku dapat mengatur dan merusak segala-galanya. Siapa yang lebih tinggi kekuasaannya dari pada aku? Hukum yang kutetapkan mesti berlaku, keputusanku pasti berjalan. Semua orang tunduk padaku, mengapa kau menentangku ?"


Dengan tenang Ibrahim menjawab : "Tuhanku adalah Allah. Dialah yang kusembah. Dia telah menciptakan kamu dan aku yang asalnya tidak ada. Ia sanggup mematikan dan menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ia adalah pencipta langit dan bumi."


Raja Namrud menyanggah jawaban Ibrahim itu, dengan pendapatnya yang konyol : "Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan."


Benarkah ?" tanya Nabi Ibrahim.


Raja Namrud kemudian memerintahkan pengawalnya untuk mengeluarkan dua orang nara pidana.


Kemudian Namrud mengambil pedang. Salah seoarang dari nara pidana itu dipenggal lehernya sampai mati. Seorang lagi diampuni, dibiarkan hidup.


Lalu namrud berkata : "Begitulah caranya aku menghidupkan dan mematikan."


"Itu bukan mematikan, melainkan membunuh dengan cara biadab dan kejam. "kata Ibrahim. "Tuhanku bisa menjalankan matahari dari timur ke barat. Jika kau memang berkuasa Namrud, cobalah kau jalankan matahari itu dari barat ke timur !"


Namrud terbungkam tak bisa bicara. Tantangan Nabi Ibrahim benar-benar membuatnya keok, tak bisa membantah lagi, ia benar-benar telah dijatuhkan oleh kecerdasan akal Nabi Ibrahim. Sejak saat itu Namrud menganggap Ibrahim sebagai musuh besarnya.


Ibrahim Hijrah Ke Mesir


Karena negeri Babilon tidak aman lagi bagi Ibrahim dan istrinya, maka ia memutuskan untuk pindah ke Syam (Palestina). Bersama Luth yang kemudian juga menjadi Nabi dan beberapa pengikutnya ia meninggalkan Babilon. Namun tidak beberapa lama negeri Palestina diserang bahaya kelaparan dan penyakit menular. Ibrahim dan pengikutnya kemudian pindah ke Mesir.


Mesir pada waktu itu diperintah oleh raja yang kejam dan suka berbuat seenaknya. Raja Mesir suka merampas wanita-wanita cantik walaupun wanita itu bersuami. Ketika Raja Mesir mendengar bahwa Sarah adalah perempuan yang paling cantik, maka Ibrahim dan sarah dipanggil menghadap. Ibrahim berdebar. Raja Mesir memang mempunyai kebiasaan aneh, yaitu merampas isteri orang yang berwajah cantik sekedar untuk menunjukkan betapa besar kekuasaannya, tak seorangpun berani menghalangi perbuatannya.


Setelah menghadap Raja Mesir, ia ditanya : "Siapakah perempuan itu ?"


"Saudaraku, "Jawab Ibrahim, sengaja ia berbohong. Sebab jika ia berkata terus terang, tentu ia akan dibunuh Raja Mesir dan istrinya akan dirampas.


Perbuatan Ibrahim ini menjadikan kaidah, boleh berbohong dalam keadaan terdesak dan terancam bahaya. Nabi Ibrahim dan Istrinya boleh tinggal di istana. Pada suatu hari, Sarah dapat menyembuhkan sakit Raja Mesir yaitu sepasang tangan raja itu mengatup rapat tak dapat digerakkan. Atas jasanya itu, Sarah kemudian diberi hadiah seorang budak perempuan bernama Hajar. Dan dengan ihlas Hajar kemudian diberikan kepada Ibrahim untuk dijadikan istri.


Di Mesir, Ibrahim dapat hidup tentram dan makmur. Hartanya melimpah ruah. Tapi justru ini menjadikan iri hati bagi penduduk asli Mesir. Maka Ibrahim kemudian memutuskan kembali ke Palestina. Sejak saat itu, Palestina di jadikan tempat tinggalnya. Di jadikan tanah airnya dan dijadikan tempat untuk menyembah Allah. Di negeri Palestina itu, Hajar melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ismail. Tak lama kemudian Sarah juga melahirkan anak laki-laki dan dinamakan Ishak. Sebetulnya Kisah Nabi Ibrahim AS masih sangat panjang, berhubung jari saya sudah pegel, maka Kisah Nabi Ibrahim saya akhiri sampai disini saja ya :D

0 komentar:

Posting Komentar